Monday, April 21, 2008

PPI oh PPI....

Salam kenal dik Saurlin,

Nama saya Tahir Pakuwibowo. Dalam email anda kepada sdr Heri Latief anda menulis "aku minta penjelasan dari mereka yg dulu aktif di ppi awal". Saya tidak merasa pasti apakah saya termasuk grup yang anda maksudkan sebagai orang yang "aktif di ppi awal". Tapi saya dulu aktif di PPI-Tjekoslowakia dan PPI se-Eropa pada dekade yang crucial, tahun 60:an.

Betapapun, saya akan mencoba membantu memberikan beberapa informasi yang saya ketahui tentang hal-hal yang merupakan pertanyaan bagi anda dan mungkin juga bagi banyak kawan-kawan dari generasi muda lainnya. Dalam email yang sama anda menulis: ” ada sesuatu yg salah dengan generasi pendiri dan penerus ppi ... tulisan ini sendiri mencari benang yang putus itu...kapan dimana dan oleh siapa ...”.

Saya rasa sulit sekali menjawab pertanyaan anda ”kapan dimana dan oleh siapa…” benang itu diputuskan? Walaupun pertanyaan ini menarik, tapi saya rasa tidak ada orang yang dengan sengaja secara aktif menetapkan, nah sekarang benang PPI ini akan saya putuskan? Tapi baiklah saya ceritakan sedikit pengalaman saya, mudah-mudahan sedikit membantu menjelaskan sebagian sejarah gerakan mahasiswa Indonesia diluar-negeri.

Pada tahun-tahun 50:an dan 60:an pemerintah Indonesia mengirimkan banyak sekali mahasiswa-mahasiswa keluar-negeri untuk menuntut ilmu, kebanyakan dalam rangka apa yang dinamakan ”pertukaran budaya” (cultural exchange). Kekecualiannya adalah Jepang. Yang dikirim kesana pada waktu itu kebanyakan didasarkan pada pampasan perang. Mahasiswa Indonesia kita temui di hampir semua negeri, baik dinegeri-negeri blok sosialis maupun kapitalis. Tujuannya saya rasa jelas, yaitu untuk mempercepat proses modernisasi Indonesia dengan kader-kader intelektuil didikan dalam maupun luar negeri, kira-kira seperti zaman Meiji di Jepang.

Saya sendiri kebetulan dikirim ke Tjekoslowakia (nama negerinya waktu itu) untuk belajar ekonomi bersama satu grup terdiri dari 30 mahasiswa dari macam-macam jurusan. Ketika kami sampai di Tjekoslowakia pada akhir 1960, sudah terdapat satu struktur organisasi yang bernama PPI dan juga apa yang dinamakan Badan Koordinasi PPI se-Eropa. Ternyata PPI ini terdapat ditiap negeri baik di Eropa Timur maupun Eropa Barat. PPI adalah mesin organisasi yang mepunyai tradisi dan berjalan baik. Yang menjadi pertanda khas dari PPI zaman saya adalah semangat dan dedikasi anggauta-anggautanya untuk menuntut ilmu diluar-negeri dan kemudian pulang kembali ketanah air untuk mengabdikan diri kepada tanah-airnya yang masih muda dan baru saja bebas dari kolonialisme. Paling tidak begitulah kesan yang saya dapatkan.


Tapi perlu dicamkan bahwa perkembangan PPI yang sehat dan kuat waktu itu tidak terjadi dalam vacuum, melainkan merupakan bagian dan pencerminan dari apa yang terjadi ditanah air. Indonesia waktu itu berada dalam era pimpinan Presiden Sukarno, proklamator Kemerdekaan, yang mempunyai visi besar tentang masa depan negeri ini. Dirasakan ditulang-sumsum bahwa Indonesia sedang bergerak menuju kearah sesuatu yang besar. Jangan dilupakan bahwa Indonesia mendapat respek didunia ketiga, dan ini tentu saja menambah kebanggaan dan kepercayaan diri mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Eropa. Fenomena yang sama sebetulnya lebih banyak lagi dapat dikatakan mengenai PPI di Belanda pada masa-masa perjuangan kemerdekaan. Roda sejarah yang bergerak menjelang kemerdekaan Indonesia tak bisa tidak akan menggugah setiap hati nurani putera-puteri Indonesia dan pada gilirannya mempengaruhi perkembangan dan kehidupan PPI pada masa itu.

Pada masa saya masih mahasiswa, diselenggarakan seminar dan konferensi PPI se-Eropah tiap dua tahun sekali dan yang terakhir dilansir pada bulan Agustus 1965 di Bukarest, Rumania. Seminar dan konferensi ini selalu merupakan peristiwa besar buat semua PPI dan diikuti oleh puluhan mahasiswa Indonesia baik dari Eropa Timur maupun Eropa Barat. Bahwasanya PPI dianggap penting juga oleh pemerintah Indonesia waktu itu, diperlihatkan oleh kenyataan bahwa pemerintah mengirimkan Ruslan Abdul Gani ke Konferensi Bukarest sebagai peninjau. Sebuah foto dari peristiwa itu bisa dilihat disini: http://pakuwibowo.multiply.com/photos/album/39/Student_Years#15

Kira-kira sebulan sesudah Konferensi Bukarest, meletuslah peristiwa G30S yang sangat tragis ditanah air dan merupakan suatu shock luar biasa buat siapapun. Akibatnya, PPI-PPI di Eropah terpecah menjadi dua, kelompok penyokong Sukarno yang anti Suharto dan anti pembantaian serta kelompok kedua yang menyokong kediktaturan militer. Sekitar tahun 1967, anggauta-anggauta PPI-kiri yang tidak mau dipaksa sumpah setia kepada jenderal Suharto dicabut paspor dan kewarganegaraannya oleh KBRI sehingga mereka menjadi stateless. PPI-kiri tetap exist sampai permulaan tahun 70:an dan terus melakukan perlawanan terhadap kejahatan rezim Suharto. Tapi akhirnya tidak terdapat lagi "mahasiswa kiri" sebagai kelompok, karena sebagian besar sudah menyelesaikan studinya. Jadi PPI-kiri kehilangan ”raison d´ etrĂ©”nya dan karena itu bubar. Bagaimana dengan kelanjutan PPI kanan saya kurang mengetahui.

Apakah rezim Suharto mempunyai visi? Menurut Aditjondro dalam bukunya ”Korupsi Kepresidenan”, ”visi” mereka adalah ”Oligarki berkaki tiga”, yaitu Istana, Tangsi dan Partai (Golkar). Sebagaimana kita semua ketahui, inspirasi yang mereka bisa berikan adalah KKN, memperkaya diri dan penyalah gunaan kekuasaan. Apakah pemerintah sekarang mempunyai visi? Saya tidak melihatnya. Indonesia kelihatannya sedang mengalami krisis kepemimpinan. Mahasiswa-mahasiswa Indonesia masa kini kelihatannya tidak punya sama banyak semangat dan dedikasi berbakti seperti rekan-rekannya dimasa-masa dulu. Yang dominasi sekarang sayangnya adalah semangat individualisme. Kenbanyakan mahasiswa Indonesia diluar-negeri ongkos-ongkos belajarnya tidak dibayar pemerintah, tapi hasil usaha sendiri atau diongkosi orang tuanya. Mudah-mudahan saya keliru dalam hal ini, tapi kelihatannya kurang ada prasyarat obyektif untuk PPI yang hidup. Kepada rekan-rekan mahasiswa generasi baru dan PPI baru saya hanya bisa anjurkan agar tidak putus asa, teruskan perjuangan untuk demokrasi serta masyarakat adil-makmur, bangkitkan semangat berbakti kepada tanah air dan Rakyat kecil. Good Luck!

//Tahir

Tuesday, April 15, 2008

read the capitalism, an ugly wild view

salah satu watak paling dasar kapitalisme adalah ekspansi.
tidak ada kapitalisme yang tidak melakukan ekspansi.
inilah dilema kapitalisme itu sendiri, ketidakmampuannya
untuk tidak melakukan ekspansi. dia akan mati jika tidak
melakukan ekspansi. kamus berhenti berekspansi adalah kematian bagi dirinya
tidak ada kamus istirahat sejenak.

ini seperti film SPEED yang dibintangi Keanu Reeves dan sandra bullock,
sebuah bus yang sedang melaju kencang yg didalamnya dipasang bom yg
akan aktif jika busnya dihentikan. berhenti adalah kematian.
so, era berhenti sejenak ini kapan terjadi? yg
akan berujung kepada kematiannya?

kapitalisme sebenarnya, sudah mulai capek. pengen berhenti sejenak,
tapi dipaksa tetap berjalan, karena semua pengambil kebijakan, ahli-ahli
penopang kapitalisme, mengerti benar, tidak ada kata berhenti sejenak..
ekspansi atau mati.

untuk melanggengkan paradigma yang sudah menua dan lanjut usia ini,
para penopangnya melakukan serangkaian operasi kosmetik; suntik sana suntik sini,
intervensi sana sini, supaya jangan sampai collaps, setidaknya memperpanjang
sedikit umur kematiannya.

itulah sebabnya, ada the ten commandments of washington consensus 1989
atau ada the post washington consensus 98. intinya, ngga penting rakyat
makan atau tidak, yang penting kapitalisme berjalan stabil. Uang adalah
inti dari stabilisasi kapitalisme ini. kontrol ( bahasa yang sangat bertentangan
dengan kapitalisme) atas uang, pun dilakukan untuk menjaga terus kesehatan
sang kakek tua.

umur kapitalisme, jika dirunut sejak industrialisasi, sudah sekitar 300 tahun, dari sekitar tahun 1700-an di mulai di inggris. apakah ini sudah cukup tua untuk umur sebuah IDEOLOGI?? tidak ada teori yang menjelaskan ini sampai sekarang. karl marx
mungkin kurang tepat meramalkan bahwa ideologi ini akan segera berakhir, melalui
selebaran 'gelap'nya di eropah bernama communist manifesto 1800-an: hantu gentayangan di eropah. kapitalisme terlalu muda untuk mati diumur 100 tahun.

tapi sebagai perbandingan,aku coba runut kebelakang, usia ideologi sebelum kapitalisme; feodalisme, kelahirannya, jika merujuk pada terbentuknya
kuasa manusia atas manusia, kepemilikan tanah dan budak..maka umurnya sekitar 3000 tahun. Nah..pertanyaannya, mungkinkah kapitalisme akan selama ini? atau akan lebih cepat?

yg pasti, dia akan berhenti dan digantikan oleh apa saja, bisa macam macam; sosialisme, atau bisa saja pemerintahan global otoritarian baru oleh militer
satu negara hegemonik..siapa tahu..inilah counter saya terhadap kematian sejarah, yang disebutkan oleh
kaum neo hegelian.

sebuah angan angan yang nakal.


kingkong.

Sunday, April 13, 2008

revolusi dan amputasi

revolusi adalah proses amputasi kelas. karena terjadinya puncak mal-fungsi dari sistem secara keseluruhan.

persoalannya siapa yang diamputasi dan oleh siapa. menurut marx yang diamputasi adalah kelas elit dalam suatu masyarakat, dan kemudian digantikan/diobati dengan kelas bawah untuk memimpin/ploretariat.

menurut gramsci, yang diamputasi adalah kelas elit, digantikan oleh kelas menengah, kaum intelektual organik, yang dalam berbagai hal berpihak kepada kelas bawah.

menurut teori neo liberal, yang diamputasi adalah kelas bawah, diamputasi oleh kelas elit, untuk melanggengkan kekuasaannya.

sedihnya, jenis bukan jenis yang pertama, bukan pula yang kedua,
tetapi proses amputasi jenis ketigalah
yang selalu terjadi di sebuah negeri katulistiwa itu.

setiap momentum revolusi, selalu mengamputasi rakyat untuk kelanggengan
elit.

april 13,08.