Thursday, July 09, 2020

Relasi Atjeh- Batak

Kenapa orang Aceh tidak mengusir Batak pada periode kecamuk konflik diakhir orde baru, 1998-1999, seperti suku-suku lainnya? Pertanyaan ini sedikit terjawab dengan penjelasan berikut.
Awal abad XIX, pertukaran pelajar dan perwira perang telah terjadi secara reguler antara dua rejim. Ini adalah era ketika SM Raja XI masih sibuk membangun puing2 ekonomi, sosial, dan angkatan perang, pasca dihabisi oleh rejim paderi dari sumatra barat. Sementara Sultan Atjeh mengerti bahwa koalisi dibutuhkan dengan tetangga untuk antisipasi serbuan sibontar mata yang sudah diwanti wanti - karena sudah tersiar luas, kerajaan2 lainnya di nusantara sudah ditundukkan.
Perwira Batak belajar tentang pemerintahan dan khususnya pertahanan laut, sementara perwira Atjeh belajar strategi dan taktik gerilya, yang sudah dipraktikkan lumayan "sukses" oleh pasukan SM Raja saat menghadapi keganasan pidori (terbukti pasukan pidori pulang sendiri).
Hasil belajar dari Atjeh ini, sepertinya mempengaruhi corak kepemimpinan SM Raja berikutnya karena penasihat2 militernya meminta penguatan struktur pemerintahan yang sebelumnya-- yang terlalu mengedapankan posisinya sebagai spiritual leaders--menjadi political leader.
Uniknya, Atjeh menghormati keyakinan tetangganya -spiritualitas Batak, demikian juga kerajaan SM raja - menghormati keislaman Atjeh. Tidak ada ekspansi agama, seperti yang dilakukan bonjol ke tanah batak, beberapa dekade sebelumnya.
Ketika relasi kedua 'kerajaan' ini sedang baik-baiknya, belanda menyerang Atjeh, 1873. Taktik perang gerilya, dan melibatkan pasukan SM Raja, telah membuat perang ini sebagai salah satu perang paling mahal dan lama bagi kolonial, tidak kurang 31 tahun lamanya. Secara simbolik perang Atjeh berakhir tahun 1904, namun sesungguhnya gerilya terus berlangsung (bahkan sampai era orde baru Indonesia).
Ketika perang berkecamuk, level kerjasama kedua belah pihak tidak hanya dalam urusan logistik, Intel, kurir, dan pengiriman bantuan pasukan, tetapi di lingkaran dalam istana. Memahami penempatan perwira masing masing untuk mengawal orang nomor satu adalah suatu relasi yang sulit dipahami, bahwa suatu negara mengirim perwiranya untuk mengawal raja dari negara lain.
Ketika perang Batak berkecamuk, tercatat beberapa orang perwira Atjeh hidup mati bersama SM Raja, bergerak dari satu hutan ke hutan yang lain. Ada beberapa panglima SM Raja yang mengganti namanya untuk memperarat persaudaraan dengan para perwira Atjeh yang ada diantara mereka; Aman Tumagas Tinambunan, menjadi Teuku Azib, dan Teungku Nyak Bantal (Situmorang).
Dalam pertempuran terakhir, seperti dicatat Raja Buntal, meninggal dan dikuburkan dilokasi pertempuran antara lain; Tengku Ben, Tengku Nyak Buntal, Matsawang, Rimpu, dan Boru Lopian. Sementara Jenazah SM Raja dibawa pulang.
Saurlin.
(referensi; O.L., Napitupulu, Perang Batak (1972), Prof WB Sidjabat, Ahu SM Raja (1982)). tulisan ini interpretasi ulang penulis.
Free Hit Counters
Free Counter Locations of visitors to this page

Wednesday, July 08, 2020

Piso Gaja Dompak dan Pemimpin di Tapanuli Raya

Selama lima abad, dari abad 16 sd abad 19, konon pemimpin di Tapanuli Raya ditentukan oleh para tetua dengan cara menguji kemampuan calon pemimpin untuk mencabut Piso Gaja Dompak (PGD) dari “sakkirnya”. Siapa yang berhasil mencabutnya, dialah yang akan menjadi pemimpin.
Saya sebut ‘’konon”, karena masih bercampur antara fakta historis dengan cerita turun temurun yang berlangsung di kawasan itu. Menariknya, banyak buku yang berkualitas akademik mencatat cerita itu – sehingga meningkatkan derajat – kemungkinan – kebenarannya. Saat ini, PGD ini disimpan di museum nasional, Jakarta, setelah dirampas Hamidi, pasukan Kapten Christoppel, pada sebuah pertempuran terakhir SM Raja, di pegunungan Tapanuli, 17 Juli 1907.
Itulah sebabnya, pergantian SM raja dari satu periode ke periode berikutnya, tidak otomatis menuruti tradisi Batak, yakni pengganti raja adalah anak sulung. Dalam beberapa kasus, anak sulung tidak bisa mencabut PGD, tetapi oleh adiknya yang lain- sehingga harus merelakan kepemimpinan berikutnya oleh bukan anak sulung.
Dalam berbagai referensi dijelaskan pula, selama berabad-abad, sering terjadi kemarau yang berkepanjangan di kawasan itu, dan hanya orang yang mampu mencabut PGD lah bisa memanggil hujan turun dengan cara menghunuskannya ke langit.
Dalam beberapa naskah, dijelaskan bahwa seseorang yang membawa PGD ini adalah seseorang yang berwibawa, yang bisa menghentikan perang antar huta, pembawa damai untuk yang berkonflik, membebaskan yang terjajah/terpasung, melahirkan mata air, dan memerdekakan budak. Secara khusus, seseorang yang menenteng PGD ini haruslah orang yang tidak memikirkan harta kekayaan, tidak korupsi, dan utamanya, justru menghabiskan kekayaannya untuk melunasi utang orang miskin, membayar budak supaya dibebaskan tuannya.
Itulah sebabnya, meskipun berkuasa lebih dari 5 abad, semua periode SM Raja tidak memiliki harta apapun, dan tidak membangun gedung kerajaan yang mewah, atau mengumpulkan harta emas untuk anak cucunya. Seluruh harta kekayaannya diberikan kepada orang miskin.
Siapakah, pemimpin masa kini, di Tapanuli Raya yang mencontoh kepemimpinan ini? Siapakah dari para bupati bupati yang ada sekarang- Toba?, Taput?, Dairi?, Samosir? Simalungun?, Tapsel? Madina? Tapteng? dst- yang mampu mencabut Piso Gaja Dompak, dan menentengnya?
Mencabut dan membawa “Piso Gaja Dompak” – menjadi bupati bupati di kawasan itu—artinya kamu harus membersihkan diri dari korupsi, menghindarkan keluarga terlibat mencampuri pemerintahan, dan memberikan harta kekayaanmu untuk warga paling miskin dan tertawan di kampung kampung. Setelah kamu bersih, kamu akan bisa “memanggil hujan” datang – perlambang memastikan pembangunan berlangsung dengan kualitas baik, ABPD dapat digunakan untuk kesejahteraan rakyat.
Satu lagi, pemegang Piso Gaja Dompak sangat anti dengan perampas tanah. Perang “Pulas” – deklarasi perang total terhadap Kolonial yang disampaikan pencabut terakhir PGD ini ( SM Raja 12), diikuti dengan sebuah statemen keras: Kami menyatakan perang kepadamu, karena menjaga wibawa tanah leluhur kami, meski nyawa taruhannya. Sikap ini dia pertahankan hingga jantungnya ditembus peluru, beserta dua anak laki laki, dan satu anak gadisnya, tewas dalam perang terakhir, di suatu petang, 17 juli 1907.
Kalau diterjemahkan dalam konteks sekarang, bupati-bupati se kawasan harus berani mengatakan hentikan perampasan tanah, kembalikan tanah rakyat, kembalikan hutan pada fungsinya, dan usir penjajah-korporasi- perampas tanah skala luas dari tapanuli. Ndak perlu bertaruh nyawa; hanya perlu satu pulpen, ambil kertas satu lembar, dari kursimu yang empuk itu, tulislah sebuah keputusan, dan tandatangani.
Horas, Saurlin

Free Hit Counters
Free Counter Locations of visitors to this page

Sunday, July 21, 2019

Khabar dari tanah leluhur…(dan pelajaran buat kita)

Para penggiat gerakan sosial di negara +91 dengan penduduk terbesar kedua di dunia ini sedang tertunduk lesu. Betapa perjuangan yang mereka bangun bertahun tahun megap megap oleh hembusan politik identitas yang memenuhi ruang-ruang publik selama setahun terakhir. Sesuatu yang seperti hantu datang tiba tiba saja..menenggelamkan harapan harapan mereka akan perubahan

Awal tahun lalu, kelompok kelompok perubahan sosial ini sangat yakin bahwa rakyat mayoritas menginginkan kepemimpinan yang baru. Dalam beberapa tahun terakhir, hampir semua gerakan akar rumput dan kelas menengah sepakat; kantong kantong kemiskinan perkotaan dan sub urban meningkat tajam, para petani meninggalkan desa yang semakin tidak menarik karena prioritas dan keberpihakan kebijakan ke kota-kota. Sepanjang jalanan kota besar dipenuhi oleh homeless baik manusia dan hewan-khususnya sapi. Persoalan kasta juga belum beranjak; kekerasan struktural masih terjadi terhadap kelompok dalit. Hampir saja jutaan orang yang hidupnya disekitar-dan tergantung kepada- hutan dan tanah, terusir dari wilayah kelolanya oleh sebuah keputusan politik yang kemudian dianulir.

Namun, arah angin tiba tiba berubah kencang. Sejak paruh kedua tahun lalu, tiba tiba saja obrolan tentang kemiskinan, ketimpangan struktural, kerusakan ekologi tertimbun gelombang informasi politik indentitas. Para pelaku perubahan sosial meyakini bahwa arus besar yang tiba tiba ini sudah direncanakan dengan matang. Intinya; persoalan dasar rakyat yang gagal dijawab elit, harus ditutupi dengan politik identitas dan keterancaman palsu.

Al hasil, kelompok petani tak bertanah yang terkenal solid itu limbung,  perlawanan anti kelas ambedkar hingga perjuangan pembebasan dan kemandirian tanpa kekerasan gandhi, digerus oleh tsunami vurifikasi hindu, hingga penciptaan sentimen keterancaman kebangsaan oleh negara negara tetangga di perbatasan utara.

Kesimpulan perjalanan singkat ini; elit politik berhasil menutupi diskursus mendasar yakni urusan ketimpangan sosial dan kemiskinan yang semakin menganga dengan memakai politik identitas palsu.


Kingkong/newdelhi/19072019
Free Hit Counters
Free Counter Locations of visitors to this page

Monday, November 05, 2018

Pulang untuk Jaga Nalar





Kembali ke kita; ada dua ciri umum masyarakat kosmopolitan Indonesia; masyarakat yang mengalami kekosongan karena terlalu lama berjarak dari ‘sarang’ sosial dan ekologi nusantara. Kelompok kedua; masyarakat cosmopolitan dan transisi agraris yang otaknya sudah berisi nilai, tapi cilakanya nilai – ideologis- asing yang mencaci maki asal usulnya sendiri – ini setara malinkundang ideologis. Namun, berita baiknya, masih ada sisa sisa kelompok kelompok sosial baik perkotaan dan perdesaan yang masih hidup dengan, dan menghargai nilai dan praktek sosial ekologi agraria nusantara. Percaya tidak?

Jika ada kemauan, tidak sulit melacak untuk kembali – mengambil contoh masyarakat nusantara yang kita kenal Indonesia dalam 70 tahun terakhir. Lihatlah cara berfikirmu, apakah cara berfikirmu telah berganti jauh dengan cara berfikir satu-dua generasi dilingkungan alam dan sosial agraris nusantara? Lihatlah apa yang kamu makan, apakah seluruh makanan yang kamu makan berjarak jauh dari makanan agraris lingkungan alam sosial sekitarmu? Lihat lah cara berpakaianmu, apakah kamu sedang secara utuh memakai pakaian penutup tubuh dari lingkungan alam dan sosial yang berbeda– apa lagi penutup tubuh dari sejarah masa lalu bangsa lain yang mana bangsa itu sendiri saja sudah berubah? Melakukannya harus disadari sebagai kekalahan, namun, tidak menyadarinya adalah kolonialisasi otak yang utuh, imperialisme otak yang sempurna. Bodoh tingkat galaksi.

Jika demikian, curigailah sekolah dan kurikulummu, curigailah lembaga lembaga yang membangun kamu sedemikian rupa menjauh dari bumi manusiamu, curigailah dirimu dan para pendidikmu. Apakah sekolah dan kampus tempatmu belajar, kebiasaan sehari harimu, agamamu, pekerjaanmu, telah membuatmu semakin jauh dari keberadaan dan sifat ekologi sosial masyarakatmu.
Sekali lagi, terlalu lama pergi  menyebabkan kekosongan, dan kekosonganlah yang menyebabkan naluri mencari sesuatu yang baru muncul. Cilakanya yang baru itu adalah asing dan destruktif.

Pulang, tak sekedar kembali harfiah, atau melawan migrasi peradaban kosmopolitan, atau royo royo pulang kampung. Aktivis orde lama menyebutnya turba, aktivis 90-an menyebut integrasi atau live in, politisi parlemen jaman now menyebutnya reses, perantau yang pulang musiman menamainya mudik. Tidak sekedar itu.


Pulang, adalah suatu sikap, tatanan berfikir dan tatanan kehidupan yang menghargai warna warni lanskap bumi dan kehidupan sosialnya. Pulang, adalah pertobatan, kembali dari singularitas dan singularisasi kosmopolitan yang membosankan, menuju isi dan wajah warna warni asali di sarang sosial ekologi bumi yang bebas dari penjajahan dan penindasan, kembali ke   ‘bumi manusia dengan segala permasalahannya’.  Hanya dengan cara ini, kewarasan dan nalar bisa langgeng terpelihara.






*****
tulisan sore di udara- pulang- batikair -halim –KNO 26 okt 2018


Free Hit Counters
Free Counter Locations of visitors to this page

Saturday, December 24, 2016

Puisi Bocah Muslimah Di Hari Natal

Puisi Bocah Muslimah
Di Hari Natal

Oleh Denny JA

Ayah,
Akankah Tuhan marah
Aku seorang muslimah
Selamat Natal aku ucapkan
Kepada temanku katolik dan protestan?

Ataukah Tuhan senang
Temanku menjadi riang
karena aku ikut bahagia
di hari Natal mereka?

Pak Ahmad tertegun dan terdiam
Ludahnya tak sengaja tertelan
Apa yang harus ia katakan
Putrinya baru usia belasan?

Ia teringat pohon di belakang rumah
Suatu ketika di malam bulan purnama
Pohon itu membesar menjadi raksasa
Puncaknya menyentuh langit
Di ranting satu bergantung masjid
Di ranting dua bergantung gereja
Di ranting tiga bergantung pura
Di ranting empat bergantung kuil
Di ranting lima bergantung Vihara

Pandangan itu sekejap saja
Datang dan pergi

Haruskah ia ceritakan
Agama banyak aliran
Ulama banyak tak sepaham
Siapa menjadi pegangan?

Ucapkan Natal, haram hukumnya
Ini kata Buya Hamka
Ucapkan Natal, halal hukumnya
Dien Syamsudin yang menyatakannya

Buya Hamka pernah menjadi ketum MUI
Dien Syamsudin pernah? menjadi ketum MUI
Keduanya dihormati
Namun keduanya tak sehati

Pak Ahmad, haji yang taat
Sholatnya tak pernah tinggal walau satu rakaat
Namun sejak Nabi Muhammad wafat
Banyak versi Islam yang terlihat

Ada yang Sunni keyakinannya
Ada Syiah yang dipercaya
Ada Ahmadiyah namanya
Ada Nation of Islam pahamnya
Ada wahabisme alirannya
Ada Islam liberal pandangannya
Ada Muslim progresive namanya
Ada Islam berkemajuan slogannya
Ada pula Islam Nusantara

Masing-masing paham punya ulama
Mereka tak satu muara
Semua menyatakan kebenaran di pihaknya
Siapa yang harus diikutinya?

Wanita dilarang menyetir mobil di Saudi Arabia
Wanita ditasbih Imam Sholat di Amerika
Keduanya mengaku Islam dasarnya
Namun mengapa sungguh beda?

Gay dihukum mati di Timur Tengah
Gay punya mesjid di Eropa
Keduanya mengaku Islam dasarnya
Namun mengapa sungguh beda?

Ayah, ujar putrinya
Yang benar yang mana?
Tuhan marah atau Tuhan suka?
Jika selamat Natal aku ucapkan?

Lembut kepada putrinya
Pak Ahmad berikan mutiara

"Anakku, nabi sudah tiada
Yang tersisa hanya ulama
Namun mereka tiada satu suara
Ulamapun bisa salah"

Ini prinsipnya

"Lakukan saja untuk temanmu
Apapun yang kamu senang dilakukan
oleh temanmu padamu"

"Jangan lakukan pada temanmu
Apapun yang kamu tidak senang dilakukan oleh temanmu padamu"

"Ayah, hatiku senang
ketika teman-temanku riang
walau beda agama
mereka ucapkan kepadaku
Selamat idul fitri
Maaf lahir batin"

"Teman- temanku pasti juga senang
Jika hatiku riang
Ucapkan selamat natal pada mereka
Semoga damai di bumi salamnya"

"Jika itu keyakinanmu
Lakukan tanpa ragu"

Lagu Natal berdentang di luar Jendela
Pak Ahmad mencium  kening putrinya
dan berkata: Alhamdulilah

Di TV terdengar berita
Planet Mars sudah dijelajah Amerika
Jepang mengembangkan robotika

Pak Ahmad sedih melihat Indonesia
Yang masih berkutat soal lama
soal ucapan Natal, halal atau haram?

kembali pak Ahmad ke belakang rumah
Pohon itu kembali mekar raksasa
Bergantungan di rantingnya
Aneka rumah ibadah
Aneka agama

Akhir Desember 2015
Free Hit Counters
Free Counter Locations of visitors to this page

Monday, November 14, 2016

kisah haru perkutut

Namaku perkutut, saya terlahir sebagai burung yang langsing, leher yang kurus dan kaki yang kecil. Temanku namanya balam. balam terlahir gemuk, leher besar, dan kaki yang gemuk. kami berdua adalah sohib sejak kecil hingga dewasa. saat kecil, aku sering ditanya oleh burung burung dewasa, cita citamu apa? Kujawab dengan lepas dan lapang tanpa beban, ingin jadi tetua burung. Eh ternyata balam juga bilang, ingin jadi tetua. Kami bahagia, menerawang, kelak bisa jadi tetua. Tetua adalah cita cita paling tinggi di dunia kami, dunia burung.

Dari kecil hingga beranjak dewasa, kami mengasah kemampuan suara kami, dengan harapan kelak bisa menjadi tetua burung yang hebat. Akupun menjelma menjadi perkutut dengan suara sopran yang indah tiada tara. Temanku, balam, juga menjelma menjadi burung yang suaranya besar, nge bas, juga disukai banyak kawanan burung. Kami bertarung, berkompetisi, namun berteman, dan bahagia. Kami berkeliling nusantara memamerkan suara kami, suara yang bertahun tahun kami asah dengan peluh dan lelah.

Hingga suatu saat setelah dewasa aku menyadari sesuatu yang janggal. Sesuatu yang membuatku bergidik ngeri, karena ternyata, aku, burung perkutut ini, tidak mungkin jadi tetua.  Ada rahasia umum yang berhembus dan beredar luas bahwa berleher langsing dan berkaki kurus, tidak mungkin menjadi tetua. Tetua hanyalah untuk balam yang berkaki gemuk dan berleher besar. Issu ini beredar luas dalam cuitan berbagai jenis burung.

Aku meronta, menantang para kawanan burung dan tetua, ayo..mari kita buka kembali kitab kitab yang ditulis leluhur kita, disana tertulis; untukmu dari generasi ke generasi, burung burung jantan dan betina, kalian bebas bercita cita setinggi langit, tidak akan dibedakan menurut ukuran badan, leher dan kaki. Terbanglah dengan bebas, jagalah nusantara, asahlah kemampuan suaramu, yang terbaiklah yang akan menjadi tetua.

Namun, cuitan cuitan burung-burung yang bergerombol itu semakin nyaring mencemooh. Kamu terlahir dengan kaki kurus dan leher kecil, kamu tidak mungkin jadi tetua burung. Tetua hanya untuk balam yang berkaki gemuk dan berleher besar.

Tetapi aku tidak pernah memilih untuk memiliki kaki yang kurus dan leher kecil. Itu adalah pemberian yang agung pencipta belantara nusantara!! Balam juga tidak pernah memilih sesuatu yang dimilikinya sejak lahir yang memuluskannya menjadi tetua.

Maaf leluhur kami, leluhur nusantara, tetua yang menulis kitab agung kami, aku dengan berat hati meralat cita citaku itu. Aku tidak mau lagi bercita cita setinggi langit, seperti pesanmu itu. Maaf, demi pulau pulau, demi langit, dan demi lelaut nusantara, pahlawan kami yang mendirikan peradaban para burung, yang pernah dengan penuh gemuruh menyeru, gantungkanlah cita citamu setinggi langit. Tetua hanya untuk balam, bukan untuk perkutut.


@national university of singapore, 15/11/2016

Thursday, October 27, 2016

Utjapan Penghormatan kepada SM Raja** (doa terakhir dari 4 bagian doa)

Singamangaraja, Singa mangalompoi,
Raja natumindi, raja nalumobi,
Naso boi tindian, naso boi lompoan
Raja natinongos ni Debata, na maringanan di pusok ni tano,
tano Bakkara, Bakkara tobing, bakkara situtu
Marhirehon ombun, marondinghon dolok,
parbinanga siboltak langit, nahundul dibale bale pasogit,
Sian ninggor sitordingon, bondar silangka langkaon.
Pargantang tarujuan, parhatian pamonoran,
pangidoan tua, pangidoan sangap,
gabe ni na niula, sinur ni na pinahan
Parsolup siopat jual, parhatian sibola timbang
parninggala sibola tali, ima raja panungkunan, raja pandapotan
raja sioloan ni jolma sibirong mata.
**"Utjapan Penghormatan kepada SM Raja" dalam Madjallah Soara Batak (1917), ditulis ulang oleh Adniel Lumbantobing(1953)Free Hit Counters
Free Counter Locations of visitors to this page

Wednesday, April 20, 2016

identitas

tadi pagi naik taksi dari changi ke salah satu kedutaan di singapore. perbincangannya cukup menarik. si sopir taksi yang kebetulan perempuan, dipercakapan kami, mengatakan bahwa in away, singapura yg tidak punya inhabitan asli yang dominan membuat tidak adanya ikatan identitas bersama, sehingga warga kehilangan orientasi soal kebersamaan melampaui peraturan kewargaan yg ditetapkan negara. singapura maju, tapi kehilangan elan vital bernama identitas bangsa. dia bilang, kalau saya tua, saya mau kembali ke kampung nenek saya di china daratan. padahal, kedua orang tuanya adalah orang singapura.

ketika pulang dari kedutaan menuju changi, saya kembali naik taksi. saya sengaja memuji singapura sebagai eropah kecil, dengan tata transportasi yg nyaris sempurna. yaya.. kata dia..lihatlah airport kami changi,sebentar lagi terminal 4 akan selesai dibangun. ini menjadi bandara terbesar didunia. katanya. saya juga bilang, dibanding dibandingin jakarta, jakarta itu ngga ada apa apanya. satu kilo meter bisa satu jam saking macetnya.. iya kata dia. negara kami maju.

tapi ketika saya masuk ke hal yg lebih dalam..apa yg kamu sukai dengan singapura???? dia bilang tak ada. saya sebenarnya tidak suka. sedikit sedikit pajak, pajak dan pajak, setiap buka pintu rumah, 30 dollar pasti keluar. coba kamu buka pintu rumah di indonesia, pasti ngga keluarin duit..katanya. dia juga mengeluhkan banyaknya peraturan2 yg semakin membatasi warga.

jika kamu ada pilihan didunia ini mau tinggal dimana? saya tanya. dia jawab; di thailand.. kalau saya punya uang saya akan ke sana, keluarga ibu saya masih ada di thailand, saya mau beli tanah, dan bertani disana nanti. katanya. padahal kedua orang tuanya adalah orang singapura.

bagaimana dengan kita, identitas nusantara????

salam tanda tanya, 20 april 2016


Free Hit Counters
Free Counter Locations of visitors to this page

untuk kita kita

aku sedikit galau kalau apa yg kalian sebut, kita itu flat di republik ini. apa benar ucapan dengan tindakan. aku ingin buktikan betulkah kita ini flat dari merauke, makasar, pontianak, medan hingga sabang?
kita lihat nanti, aku akan uji ucapan kalian ini.

Free Hit Counters
Free Counter Locations of visitors to this page

Thursday, January 14, 2016

Sesat..

hari ini semua media ribut soal sesat menyesatkan.

sejarah bercerita begini soal sesat-menyesatkan. Sejarah peradaban awal timur tengah dan yunani kuno; menulis pikirannya-atau nulis buku- ekslusif hanya tugas raja dan penasihat raja. Bagi siapa yang kedapatan menulis buku adalah sundal sesat, dihukum mati.

Ketika socrates berbicara berbeda dengan langgam filsafat raja, socrates juga disebut sesat dan harus mati dibunuh.  400 tahun berikutnya, Yesus, seorang anak pekerja logging, harus mati dibunuh karena berbeda penjelasan tentang buku yang ditulis yesaya.
Lima abad berikutnya, menyebut bumi bulat seperti Galileo adalah sesat, Galileo pun dihukum mati. 

Saya melompat saja ke rumah kita; soekarno juga harus dibunuh perlahan lahan, dianggap sesat, hanya karena melihat apa yang tidak mampu dilihat orang pada jamannya: sebuah indonesia raksasa yang tidak perlu mengekor ke blok barat atau ke timur. Mimpi sukarno terlihat jelas di patung yang dia citrakan sebagai manusia indonesia; patung dirgantara pancoran dan patung pemuda membangun di bunderan senayan.


Hari ini kita tahu mereka keliru; menulis buku bukanlah pekerjaan sesat, berfilsafat kritis juga adalah kecerdasan mulia, dan bumi ternyata benar bulat. Nah..soal indonesia sebagai raksasa  (seperti yang soekarno gambarkan di tugu-tugu dan dibuku2 yg ditulisnya)...sepertinya masih lebih banyak yg tidak percayahh...buktinya banyak pemimpin kita masih di level mental korupsi..karena tidak yakin dirinya lebih besar dari sekedar penyamun. Selamat pagi.
Free Hit Counters
Free Counter Locations of visitors to this page

Friday, July 17, 2015

Tragika Engeline dan kita

Sependek ingatanku, tragedi besar di indonesia dalam dua abad terakhir hanya dua; pertama tragedi pembantaian g30s tahun 1965, dan yang kedua tragedi kematian Engeline tahun 2015. Dua peristiwa ini benar benar membuatku ingin muntah. Yg pertama pembantaian ratusan ribu orang tak bersalah, dan yang kedua pembunuhan berencana kepada seorang anak kecil mungil dengan cara yang keji dan dengan tujuan yang jauh lebih keji pula; jika konstruksi yg dipaparkan media tidak keliru.
 Pembunuhan massal tahun 65 berakar pada pertarungan keras dua kutub yang terjadi pada abad 20; sebuah peristiwa politik yang kemudian memfasilitasi hasrat gelap dan dendam manusia untuk membunuh sesamanya. Dan... kematian engeline, adalah kematian yang berakar belikat dengan kejiwaan peradaban abad 21 di indonesia. Maaf seribu kali maaf, telah menuduh dan melibatkan kita semua dengan kematian yang terakhir ini. Juga maaf..jika mungkin saya ingin menghidari membaca berita tentang engeline ini, tetapi sekuat aku menghindarinya, media disekelilingku seolah memaksaku memandang berita ini. Saya tergoncang dengan peristiwa ini, teristimewa karena saya punya anak kecil berumur 5 tahun yang setiap tidur wajahnya yang bersih mulia aku pandangi. Sebegitu sayangnya aku padanya sehingga nyamuk seekorpun tidak akan kubiarkan terbang dikamarnya, apalagi menyakitinya

....engeline si malaikat kecil yg cantik dan pinter diakhiri hidupnya secara keji, dikuburkan tidak wajar...kemudian kematiannya diperalat untuk mengumpulkan uang dengan berbagai cara. Sesakit apakah bangsa kita?
Betul, di abad sebelumnya jejak pembunuhan massal di bali adalah salah satu yg paling keji, seperti yg terjadi di jawa dan sumatra..tetapi mustikah aku membandingkan dua peristiwa kelam ini untuk menggambarkan trajektori sakit jiwa yang kita derita? Bagaimana syaraf kejiwaan menyakiti sesama ini terus berlanjut diantara sesama kita?

Sore ini aku bertemu dengan seorang teman lama separuh baya, dan kami bercerita panjang lebar tentang peristiwa saling menyakiti antara sesama masyarakat kita yang, sepertinya kami mendekati sepakat, persis, adalah juga gejala kejiwaan yang menurun dari generasi ke generasi.
Sementara penyakit lama belum sembuh, kita juga sudah diserang tanpa ampun ‘penyakit penyakit’ baru yang bisa lebih beringas dan tanpa serum. Kita semakin gamang dengan semakin menjauhnya kita dari kedirian kita, dari identitas otentik kita yang sesungguhnya.
Ketika masa lalu kita telah dijajah dan terjajah dengan senjata dan pedang (plus kitab suci), kini kita telah di-dan-terjajah oleh bukan hanya apa yg kita pakai dan kita makan, tetapi oleh nilai, gagasan, dan keyakinan keyakinan palsu yang datang bertubi tubi dari segala penjuru. Kita tidak hanya minder dengan diri kita sendiri, lebih parah dan akut adalah melupakan bahwa kita pernah menjadi sesuatu yang otentik, yg sekarang menjadi manusia seolah-olah dan seolah olah manusia. Engeline harus menjadi korban karena kita ingin menjadi orang lain, engeline harus mati karena kita tidak tahu lagi sesungguhnya kita ini siapa dihadapan engeline, malaikat suci itu.

Kita telah begitu banyak kehilangan bagian bagian tubuh kita; kita sudah kehilangan pengalaman spasial sebagaimana nenek moyang kita memilikinya dulu. Kita tidak bertemu hutan lagi, kita tidak bertemu air sungai lagi, kita tidak bertemu binatang binatang lagi disekeliling kita. Dan lebih mengerikan...sesama kita..oh kawan...sesama kita..sudah tidak pernah bertemu lagi; jari-jari kita sudah sibuk melakukan scroll down android, dan sesekali ketak ketik, berjam jam tanpa bicara dengan teman dekat yang ada disamping kita..jiwa kita sudah terpancung jauh, menyembah samsung, dan nokia yang maha kuasa.

Kita bahkan sudah tidak punya nyali untuk menyembuhkan diri kita sendiri. Ayoo..hai orang asing datanglah..dengan begitu aku merasa yakin masalahku ini bisa selesai....ayoo..hai pemiling uang dari negri asing..investor yg maha kuasa..datanglah...kami miskin butuh dibantu....ayooo hai budaya asing...berkuasalah disini..sebab kami tidak berbudaya lagi..ayoo lembaga PBB..datanglah..penyelamat yang maha kuasa..selamatkanlah danau toba kami yang indah..dari kehancuran..sebab kami tidak tahu lagi memulai darimana...datanglah bersama dengan uangmu.

Ayo minta minta...dengan tangan secara fisik dijalanan raya untuk bangun gereja atau masjid..dengan terang benderang pakai tulisan ‘donasi’. Ayo minta minta..dengan buat proposal ke orang orang asing itu..dengan jujur atau dengan boong boongan... ayolah..kami benar benar tidak berdaya..kami musti bermain drama ini untuk memancing kamu datang membantu kami...

Aku ingin ambil contoh paling dekat dihadapanku tentang kebohongan. Aku menyaksikan teman temanku pinter bermain drama pendek, posting sesuatu plus gambar di media sosial. Aku tahu kamu tidaklah begitu, dan aku tahu kamu bukanlah itu, tetapi kenapa kamu harus bermain drama dan melankolia seolah hidupmu ada di sinetron picisan? Kepentingan kepentingan begitu banyak tersembunyi secara tidak begitu rapi membuat kita hanya bisa tersenyum bahkan terbahak-bahak menyadari ketelanjangan ketelanjangan seperti itu.

Sejak kapankah kami mulai melupakan leluhur kami? Sejak kapankah kami lupa terhadap diri kami yang sesungguhnya? Sesakit apakah masyarakat kita? Sesakit apakah komunitas kecil gerakan sosial kita?
@kingkong, july13, 2015. 
Free Hit Counters
Free Counter Locations of visitors to this page

Thursday, January 22, 2015

“Kisah Kepingan Sorga, Tapian Nauli”

Awal mula penciptaan bumi, dewa langit menciptakan dua teritori. Teritori pertama adalah untuk dewa dewi yang telah memilih menetap di bumi, itulah Tapian Nauli, yang diciptakan mirip sorga, karena para penghuninya yang berasal dari sorga. Teritori kedua adalah perkampungan manusia biasa, yang disebut Mula Tompa.

Tapian Nauli terdiri dari Pulau dan danau yang indah, tempat para peri, dewa dan dewi untuk bersantai sehari hari, dengan junjungan tertinggi mereka, sang dewi, Deak Parujar. Tempat dimana segala jenis makanan, minuman yang sehat dan segar tersedia. Air danau tempat mandi dan minum sekaligus, karena airnya yang segar dan menyehatkan.Tempat embun bergulung gulung segar yang jika dihirup membuat kulit menjadi bersinar,  tempat madu asli yang jika diminum akan membuat nafas menjadi harum seperti bunga. Segala kebutuhan tersedia disana. Binatang binatang, burung, dan ikan, bercengkrama dengan akrabnya dengan para dewa dan dewi. Tempat sang dewi utama, Deak Parujar, melanjutkan hobbi surgawinya, menenun kain.

Mula Tompa adalah sebuah perkampungan manusia yang setiap hari terlihat hiruk pikuk, tempat segala jenis manusia berkumpul dan bertarung mencari nafkah. Setiap orang harus bekerja keras di ladang untuk mencari sesuap makanan, setiap orang harus berburu ke hutan dengan bersusah payah untuk mendapatkan daging hewan liar.  Siang dan malam tiada istirahat, namun mereka tetap dengan kondisi yang sulit, tetap menderita. Sesekali mereka diijinkan sekedar menengok tempat tinggal para dewa dewi di tepian danau indah, tapian nauli. Mereka semakin gusar melihat dirinya yang semakin susah, sementara dewa dewi di Tapian Nauli menikmati hidup yang makmur tanpa kekurangan sesuatu apapun.

Suatu kali penduduk di Mula Tompa melakukan rapat kampung. Kondisi yang semakin memprihatinkan di kampung telah memaksa mereka untuk bertemu membicarakan nasibnya. “Buah Pepohonan kita tidak semanis buah pepohonan di Tapiannauli, umbi-umbian ini tidak selezat yang disana,”Kata seorang tetua. “Air sungai kita juga tidak sejernih danau mereka, udara yang kita hirup juga berbeda dengan udara mereka yang harum”,Kata seorang tetua lainnya. Seorang pemuda memanggul busur menimpali,”Saya tidak bisa menemukan buruan lagi di hutan kita, sementara disana mereka bercengkrama dengan hewan hewan”.

 “Pantaslah kulit kita lebih jelek dari mereka, sementara kulit mereka memancarkan sinar cahaya. Nafas kita lebih bau dari mereka, badan kita kurus kerempeng, tidak seperti mereka yang gemuk. Ini jelas tidak adil,”kata seorang tetua. “Malah kita harus membanting tulang bekerja, sementara mereka tiap hari hanya berpesta pora, tidak ada ratap tangis disana,”Tambah yang lainnya. Pertemuan itu menjadi hiruk pikuk. Mereka bicara bersahut sahutan.

“Betul, ini tidak adil, kita harus meminta bagian dari wilayah Tapian Nauli”. “Kita harus mengepung dan mengalahkan mereka, dan mengambil alih Tapian Nauli itu”. Tidak mungkin, mereka itu dewa dewi, kita hanya manusia biasa, kita akan mati kalau mereka tahu tujuan kita. “Nafasnya bisa berubah api yang menyala nyala”. “Pepohonan, binatang, air, dan udara bisa berbicara kepada mereka”.


Sesaat hening setelah menyadari kekuatan para dewa dewi itu, seorang tetua menyampaikan usul “Yang Mulia, saya mengusulkan dibentuk tim investigasi untuk mengetahui apa saja kelemahan kelemahan mereka”. Semua peserta rapat menyetujui usulan itu. Dikirimlah lima orang yang paling pintar dan paling kuat diantara mereka untuk melakukan penyelidikan ke tanah yang menyerupai kepingan sorga itu.

Sesampai di Tapian Nauli, ke lima orang itu disambut baik oleh para dewa dewi, mereka dibebaskan mengambil dan memakan seperlunya dari tanah mereka, tetapi tidak boleh membawa lebih dari apa yang bisa mereka makan. Ketika mereka mencicipi madu yang diberikan, mereka merasakan kulit mereka lebih berkilau. Ketika mereka meminum air danau yang jernih itu, terasa nafas mereka menjadi wangi. Kelima orang itu melanjutkan perjalanannya hingga ke istana utama tempat dewi junjungan seluruh mahluk, dewi deak parujar, sedang menjalankan hobbinya, menenun ulos.

Ada yang unik disaat para peri cantik itu bernyanyi, dewi Deak Parujar tertidur pulas, demikian juga dengan dewa dewi lainnya. Tetapi ketika mereka berhenti bernyanyi, para dewa dewi itu terbangun kembali. Yakin telah menemukan kelemahan para dewa dewi itu, kelima orang utusan itu pun pulang ke kampung, dan menceritakan kelemahan dewa dewi itu kepada para tetua kampung.

Keputusan penting pun diambil, yakni dewa dewi itu akan diculik, supaya warga kampung bisa menguasai kepingan sorga itu. Untuk memuluskan penculikan, dibentuklah tim paduan suara untuk mempelajari lagu lagu yang dinyanyikan para peri itu.  Juga, sebuah gedung besar kedap suara dibangun sebagai tempat baru dewa dewi itu nantinya, berikut alat pemintal dan alat tenun untuk sang ratu utama. Setelah berbulan bulan latihan dan menyiapkan niatnya, tim terbaik dari kampung dikirimkan, terdiri dari tim paduan suara dan tim pemandu tenda kamuflase tempat para dewa dewi itu akan dimasukkan.

Tibalah waktu dimana para peri sedang menjalankan kebiasaannya berenang ke danau meninggalkan para dewa dewi yang sedang kedatangan tamu dari Mula Tompa. Tamu yang jumlahnya tidak biasa itu kemudian mulai bernyanyi lagu lagu kesukaan dewa dewi.  
Benarlah apa yang mereka perkirakan. Dewa dewi itu senang, dan meminta mereka menyanyikan terus menerus lagu-lagu itu dihadapan sang Ratu dan dewa dewi. Seketika, para dewa dewi itupun tertidur pulas. “Bernyayi terus, dan angkatlah mereka ke tandu tandu yang telah disiapkan,”Kata pemimpin rombongan penculik dari desa itu.

Di perjalanan, mereka bernyanyi terus menerus, berhari hari, bergantian, sampai ada shift siang dan malam, hingga sampai di kampung. Para dewa dewi itupun dimasukkan ke dalam gedung besar mirip Tapian Nauli. Regu paduan suara terus diperintahkan untuk bernyanyi sepanjang waktu.”Jangan sampai mereka terbangun sedetik pun,”Kata pemimpin rombongan penculik Mula Tompa. Dewa dewi itu telah dibuai dan diperangkap di gedung itu.

Tibalah saatnya penduduk Mula Tompa menduduki Tapian Nauli. Dengan bergegas mereka bergerak bersama sama menuju Tapian Nauli. Setelah tiba, mereka mengambil apa saja yang ada di Kepingan Sorga itu. Mereka makan dan minum sepuasnya. Bukan hanya itu, madu-madu asli mereka masukkan ke dalam botol, air-air jernih di danau itu mereka masukkan kedalam galon-galon yang sudah disiapkan. Mereka juga mulai membangun tempat tinggal baru untuk mereka sendiri ditempat itu. Nafas mereka menjadi wangi, kulit mereka jadi bercahaya, dan umur mereka menjadi panjang. Masing masing mengumpulkan emas dan berlian berlomba lomba untuk kekayaan sendiri.

Bertahun tahun tanpa henti, mereka mengeruk segala yang ada ditempat itu. Mereka bawa pulang, dan sebagian mereka tumpuk dilumbung dan menjualnya ke perkampungan lain. Mereka alpa, bahwa apa yang mereka lakukan telah merusak dengan sangat parah danau, merusak tanah, dan merusak pepohonan. Kepingan sorga itu telah terluka parah.

Hewan hewan telah habis dibunuh oleh penduduk. Pohon-pohon melayu, Danau menangis, Udara merintih, Tanah yang berubah gersang bersedih. Pepohonan mulai meraung,”Mengapa mereka menghancurkan kita?”. Tanah menyahut,”Dewa dewi telah mereka ambil dari kita, sekarang kita sendiri pun telah dihancurkan mereka. Kita harus membalas kejahatan mereka. Mari kita tunjukkan bagaimana kekuatan kita”.

Ditengah pesta pora penduduk Mula Tompa, tiba tiba datanglah angin puting beliung dan hujan deras, selain itu gelombang air sungai melimpah ruah seperti air bah, tanah bergoyang bertanda gempa dasyat, dan menyemburkan api yang menyala nyala, meletus membentuk jamur raksasa di langit. Penduduk kocar kacir dan berseru seru minta tolong satu dengan yang lainnya. Air yang menggunung menyapu bersih seperti menumpahkan amarah terhadap warga kampung itu. Ratusan bahkan ribuan orang mati terlindas ganasnya alam itu.

Mereka yang selamat meratapi kehancuran tiada tara yang mereka alami. Tidak ada yang tersisa kecuali pakaian yang melekat di badan, bahkan pakaian mereka telah compang camping, dan badannya luka-luka. Dengan lunglai mereka pulang ke kampung asal, Mula Tompa. Sembari bertanya tanya apa gerangan yang membuat bumi marah. Seorang tetua berkata,”Kita butuh bantuan dewa dewi yang telah kita tawan itu. Kita harus segera membebaskan mereka dari kampung untuk menyelamatkan kita.

Merekapun bergegas menuju gedung besar tempat dewa dewi itu terlelap tidur selama bertahun tahun. Mereka masih menyaksikan regu paduan suara masih terus menyanyikan lagu lagu secara bergantian. Tetua yang selamat dari bencana dasyat itu meminta paduan suara itu berhenti bernyanyi. “Kita sekarang telah mendapat bencana besar, mari hentikan nyanyian ini, sebelum kemarahan alam Tapian Nauli menghampiri kita ke sini. Kita harus bangunkan dewa dewi itu, kiranya dewa dewi dan ratu juga menyelamatkan kita,”Teriaknya.

Regu paduan suara itu pun menghentikan nyanyian itu. Tetapi alangkah terkejutnya mereka, karena dewa dewi itu tidak bangun dari tidurnya. Dengan wajah yang putus asa mereka menggoncang goncang tubuh dewa dewi yang wajahnya terlihat tersenyum itu. Tidak ada respon sama sekali, dewa dewi itu telah tidur untuk selamanya. Dewa dewi itu telah tertidur terlalu lama, mabuk oleh pujian lagu lagu indah. Awan gelap, bergulung gulung diudara,  ratap tangis penyesalan dan menyembah nyembah, tidak mampu membangunkan dewa dewi itu. Dewa dewi itu telah menjadi patung yang tersenyum, selama-lamanya...

King, Januari 22, 2015.  
 Free Hit Counters
Free Counter Locations of visitors to this page